Menutup Masa Tugas di Sorong, Papua Barat Daya

Setelah satu tahun sepuluh bulan menjalankan masa tugas di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, dua minggu sebelum idul fitri kemarin saya akhirnya mendapatkan tugas di tempat yang baru. Berarti, dalam waktu sekitar 1 bulan, saya harus segera menyelesaikan semua urusan di kantor lama untuk kemudian berpindah ke kantor yang baru.

Rasa senang karena semakin mendekat ke kampung halaman jelas ada. Tapi di balik itu, ada pula rasa sedih karena harus berpisah dengan tempat dan kawan-kawan yang ada di Kota Sorong. Tentu saja, sedih pula karena harus meninggalkan pesona alam Raja Ampat yang luar biasa.

One Day Trip Piaynemo, Raja Ampat

Seperti janji saya kepada anak gadis (bukan Si Kecil lagi), saya akan mengajak dia ke Sorong sebelum pindah. Meski ternyata waktu pindahan yang sebenarnya kurang ideal karena masih sibuk arus balik lebaran, belum lagi badan yang masih terasa sangat lelah habis ikut arus mudik-arus balik Lampung-Purwokerto, tapi janji harus ditunaikan.

Dengan waktu yang cukup mepet dan mendadak, saya berhasil mendapatkan 3 (tiga) seat untuk one day trip dengan agen Misooltrip Raja Ampat (Instagram Misooltrip). Mereka punya beberapa trip, salah satunya adalah one day trip Piaynemo. Setelah tanya-tanya, nego harga dan lain-lain, saya akhirnya booking untuk jadwal hari Sabtu, tanggal 20 April 2024.

Sabtu pagi pukul 07.00 WIT kami sudah tiba di dermaga Usamina, atau Usahamina, Sorong. Ternyata jadwal hari itu cukup padat. Kata Mbak Wenny yang menjadi agen kami pagi itu, kebetulan peserta kali ini full. Kalau tidak salah sih 24 peserta ya.

Sekitar pukul 07.45 WIT, setelah briefing singkat, semua peserta mulai menaiki kapal. Ternyata speedboat terisi penuh sesuai seat yang ada. Tak lama, kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga. Agenda perjalanan hari itiu seperti yang disebutkan dalam paket adalah Piaynemo, Telaga Bintang, Telaga Manta, Sawandarek dan Pasir Timbul.

Perjalanan one day trip hari itu terbilang sangat memuaskan. Cuaca kebetulan sedang cerah-cerahnya dengan matahari yang tidak berlebihan, kru agen perjalanan yang sangat ramah, dan tentu saja tim dokumentasi yang melimpah ruah. Sangat puas!

Menginap di DCoral Paradise Resort, Raja Ampat

Setelah memenuhi janji mengajak keluarga ke tempat wisata iconic di Raja Ampat, selanjutnya adalah berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat. Selama ini banyak orang mengira itu Raja Ampat itu hanya tempat wisata. Sedikit yang tahu kalau Raja Ampat itu sendiri nama salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat Daya.

Perjalanan ke Waisai, Raja Ampat, ditempuh dengan dua jam perjalanan naik speed boat dari Pelabuhan Rakyat, Kota Sorong. Harga tiketnya 150 ribu rupiah untuk kelas biasa, dan 250 ribu untuk VIP. Dalam sehari ada dua keberangkatan ke Waisai Raja Ampat, pun demikian sebaliknya.

Tiba di Pelabuhan Waisai, kami langsung dijemput oleh driver dari Dcoral Paradise Resort yang sudah kami pesan sebelumnya. Kabarnya, DCoral ini termasuk resort yang cukup populer di Waisai. Sempat mendengar kabar kalau resort ini milik artis ibukota, tapi ternyata kabar itu tidak benar.

Perjalanan ke DCoral sendiri memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit saja. Sampai lokasi sekitar pukul 12 siang, kami langsung dipersilahkan makan siang dengan menu yang telah dihidangkan.

Resort DCoral memiliki beberapa bangunan kamar yang seluruhnya berada di atas permukaan air laut. Untuk kelasnya sendiri ada beberapa, saya memilih yang Deluxe Family (kalau tidak salah). Dengan harga kurang dari dua juta rupiah semalam, menurut saya cukup sepadan. Harga ini sudah termasuk 3 kali makan untuk 3 orang, dan antar jemput ke pelabuhan.

Untuk resort yang kami sewa, cukup memuaskan. Terdapat 1 kasur ukuran queen size dan 1 kasur single bed, sepertinya untuk anak. Ruang kamar dilengkapi AC dan kipas angin, tapi tidak ada televisi. Sayang kamar mandinya sepertinya masih bisa lebih baik lagi. Masih terbilang baik, tapi bisa ditingkatkan lagi.

Spot favorit jelas ada di bagian belakang kamar. Terdapat balkon yang cukup luas untuk bersantai dan melamun memandangi alam dan lautan. Ini adalah tempat kami menghabiskan waktu sambil nyamil santai, benar-benar liburan.

Untuk pantai dan lautnya sendiri tidak perlu diragukan lagi, pasir putih dengan air yang jernih sampai dasar dan hewan lautnya juga kelihatan jelas. Namun untuk berenang, sepertinya perlu dipertimbangkan ulang. Apalagi kalau membawa anak kecil.

Selama dua hari satu malam di DCoral, kami melihat banyak hewan laut yang berkeliaran. Tidak hanya ikan laut kecil nan warna warni, tapi sekumpulan ikan kecil-kecil (sarden?), anakan hiu kecil, keluarga ikan pari (beneran pari!), belut laut, bahkan ular laut yang kebetulan lewat sebelah kaki saat bermain di tepian pantai!

Dengan kondisi pantai dan laut yang terbilang masih alami, tentu banyaknya jenis hewan laut yang terlihat itu sangat memuaskan mata. Tapi untuk berenang anak-anak, saya tentu saja sangat khawatir dan tidak mengizinkan. Jadi, kalau kebetulan kamu main ke DCoral dan mau berenang-renang, pastikan anak dalam pengawasan!

Soal makanan dan pelayanan, sangat-sangat memuaskan. Menu yang disajikan cukup beragam dengan rasa yang enak, disediakan camilan sore hari, dan semua petugas atau pelayannya sangat ramah. Bahkan saat checkout dan kembali ke pelabuhan, driver menyempatkan untuk mengajak kami berkeliling sebentar melihat keramaian di pusat kota Waisai Raja Ampat.

Berburu Papeda Kuah Kuning dan Rahang Tuna Bakar

Setelah misi jalan-jalan melihat Raja Ampat, maka selanjutnya tentu saja berburu kuliner khas Sorong yang sering saya ceritakan ke keluarga. Kuliner yang paling dicari adalah papeda kuah kuning dan rahang tuna bakar. Sempat khawatir kalau sulit di dapat sebenarnya, karena papeda hanya ada di beberapa tempat makan. Itu pun masih harus pre-order sehari sebelumnya. Sementara rahang tuna, beberapa waktu ke belakang sedang agak langka.

Untungnya semua menu makanan itu berhasil kami cicipi. Rahang tuna bakar kami dapat di Republik Seafood Sorong dan juga Balobe, sementara papeda kuah kuning kami dapat di Balobe. Kalau soal rasa, tidak perlu diragukan lagi. Wajib coba sih!

Saya sendiri baru pertama makan papeda di rumah makan atau resto. Biasanya makan saat acara bakar-bakar ikan di kantor saja. Dan papeda di Balobe resto ini sangat mantab, apalagi kuah kuning mata ikan yang jadi pendamping. Super sekali!!!

Berburu Oleh-Oleh dan Pulang Ke Lampung

Setelah semua selesai, maka saatnya mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Lampung. Tidak terlalu banyak yang bisa dibawa pulang dan terbilang standar saja. Beberapa gantungan kunci bertema Papua, jajanan produksi lokal, dan kaos souvenir saja.

Malamnya, teman-teman kantor membuatkan acara bakar-bakar ikan dan masak papeda kuah kuning. Kami makan bersama sekaligus berpamitan karena esok penerbangan pagi menuju Jakarta yang akan dilanjutkan penerbangan ke Lampung.

Terima Kasih, Sorong

Satu tahun sebelas bulan buat saya, dan hanya kurang dari seminggu untuk keluarga, menikmati suasana Sorong dan Raja Ampat. Meski banyak yang ‘merasa kasihan’ karena saya ditempatkan begitu jauh dari rumah, entah kenapa saya merasa bersyukur dan betah sekali di ibu kota provinsi termuda Indonesia ini. Apalagi dengan Raja Ampat yang penuh pesona itu.

Tapi tugas baru sudah menunggu. Saatnya berpamitan dari ujung barat pulau papua.

Terima kasih sorong dan segala ceritanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here