Mendaki Semeru (bag 3), Sendiri Di Puncak Mahameru

Pukul 10 malam saya dan Perdhana dibangunin dari tidur ayam oleh suara alarm hape (baca Mendaki Semeru Bag 2). Rasanya malas untuk bangun, namun tetap saya paksakan. Mata dimelek – melekin, membuat secangkir seral hangat dan mengunyah sepotong biskuit gandum. Cukup, rasanya itu saja supaya perut tidak terlalu penuh. Langsung tarik jaket, pakai sepatu dan keluar tenda. Langit cerah dengan ratusan, mungkin ribuan bintang diatas Kalimati. Ya, kami akan summit Mahameru.

Tepat pukul 11 malam kami mulai berjalan meninggalkan tenda menuju jalur pendakian. Tapi emang dasarnya males, sampai bangunan posko kami kembali duduk dan bercanda sembari menunggu rombongan yang tahu jalan. Pukul setengah 12 malam akhirnya ada rombongan ekspedisi yang jalannya kayak tentara perang, kompak enggak pake istirahat. Jalur pendakian langsung menanjak, tanpa ada bonus jalan rata, apalagi menurun.

30 menit awal pendakian, saya sudah 2 kali bilang ke Perdhana kalau sepertinya saya enggak kuat. Tanjakan tanpa henit, ngantuk, lemas dan sakit perut benar – benar jadi musuh berat. Tapi Perdhana juga berulang kali bilang, “bisa lah, santai aja. Kalau capek istirahat dulu. Enggak usah ikutin pasukan di depan“. Saya manut. Udara dingin jujur buat saya kurang seberapa mempengaruhi karena saya terus bergerak dan berkeringat. Malah, diantara rombongan depan dan belakang, hanya saya dan Perdhana yang mendaki tanpa menggunakan jaket. Hanya menggunakan celana panjang dan kaos biasa, jaket kami masukkan ke dalam tas.

2 jam kemudian, kami mulai meninggalkan batas vegetasi. Untuk yang ketiga kali saya bilang ke Perdhana, “Dhan, belum telat kalau mo turun dan tidur di tenda nih“. Lagi – lagi dia bilang untuk lanjut. Okelah, itu terakhir kali saya ingin menyerah. Dan perjuangan benar – benar dimulai. Angin benar – benar kencang di lereng Mahameru, dingin mulai terasa, kaki mulai lelah menanjak dan terperosok turun lagi. Saya dan Perdhana tidak terburu – buru, kami berkali – kali duduk beristirahat untuk minum dan makan coklat bekal yang kami bawa.

Kami berulang kali terpisah karena Perdhana sebagai sweeper berjalan di belakang saya. Pukul 4 pagi, kami duduk bareng di lereng Mahameru. Jam digital Perdhana menunjukkan ketinggian 3300++ mdpl. Jalan masih panjang, kami bikin perjanjian, sampai manapun langkah kami nanti, jam 7 pagi harus sudah mulai berjalan turun. Ya, kami melanjutkan perjuangan lagi mendaki puncak Mahameru.

Sunrise mendaki gunung semeru

Sunrise di lereng Mahameru

Pukul 6 pagi saya terpisah jauh dari Perdhana yang entah ada dimana. Titik yang saya kira adalah puncak, ternyata batu besar yang menghalangi pandangan. Puncak masih jauh, saya sudah benar – benar lelah dan kehabisan air, dan memutuskan untuk mengakhiri pendakian. Lagi enak – enak istirahat sebelum mulai turun, ada orang berteriak dari atas tebing. Saya ingat orang itu hanya pakai kaos, celana panjang, sendal jepit, topi kupluk dan sarung. Iya, dia pakai sarung. “Mas, ayo dikit lagi. Ini puncaknya!“. Orang yang jadi teman ngobrol saya, entah siapa namanya, juga bilang tanggung sedikit lagi. Dan akhirnya saya terus mendaki..

6.40 pagi, belum jam 7, saya akhirnya berdiri di Puncak Mahameru. Lelah, sakit, tapi terbayarkan dengan rasa puas yang amat sangat. Saya langsung ditarik pendaki tak saya kenal itu ke tiang Bendera Merah Putih. Bukan sok nasionalis kok, dia minta tolong dipotoin… Asyem…

10 menit setelah adegan foto – foto narsi, saya menikmati benar apa yang dibilang orang pemandangan dari atap Pulau Jawa. 3676 meter dari permukaan laut itu ternyata sangat tinggi. Tepat jam 7 pagi, Perdhana enggak juga muncul hidungnya di puncak. Pergi dari kos bertiga, summit Mahameru berdua, sampai di puncak saya hanya sendiri. Puas, tapi rasanya ada yang kurang. Dan seperti janji yang sudah saya buat, maka saya mulai menuruni Mahameru.

tips Mendaki puncak mahameru

p.s. Maaf foto diburemin, gak pede majang foto muka sendiri. Hehehe….

Tulisan Lainnya

Mendaki Semeru (bag 2), Ranukumbolo Menuju Kalimat... Setelah menikmati indah dan dinginnya pagi di Ranukumbolo (baca : Mendaki Semeru Bag I), saya dan Perdhana mulai beraktifitas seperti pendaki lainnya....
Mendaki Semeru (bag 4), Sampai Jumpa Mahameru Tepat pukul 7 pagi saya mulai menuruni puncak Mahameru. Ternyata masih banyak pendaki - pendaki yang terus berusaha untuk sampai ke puncak. 3 atau 4 p...
Mendaki Semeru, Pagi Di Ranukumbolo Mahameru, mungkin nama puncak tertinggi di Pulau Jawa itu belakangan sering kita dengar. Bisa dibilang, film 5 cm menunjukkan sebuah efek yang cukup d...

Leave a Reply

badge