Mencari Rumah

Sebagai pegawai yang bekerja secara nomaden, berpindah-pindah kota bekerja, membuat urusan memiliki rumah menjadi urusan yang lebih memusingkan. Terlepas dari harga properti yang semakin menggila, ternyata memilih rumah yang memenuhi kriteria fasilitas, lokasi, desain dan tentu saja HARGA benar-benar bukanlah hal yang mudah.

Suka tidak suka, punya rumah adalah sebuah kebutuhan. Apalagi sekarang Si Kecil sudah tidak lagi kecil memang meminta agar memiliki kamar sendiri. Kamar anak yang proper, bukan sekedar untuk menaruh barang-barang dan mainannya. Mungkin dia ingin belajar tidur sendiri.

Setelah cukup waktu berdiskusi, saya akhirnya memutuskan untuk memulai mencari rumah yang sesuai kriteria. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari sekolah dan ‘calon sekolah’, lingkungan yang nyaman namun tidak terlalu jauh dari keramaian, fasilitas yang mumpuni dan desain yang sesuai selera. Kriteria terakhir sudah jelas, harganya masih terjangkau dan cukup masuk akal.

Ternyata hal itu tidaklah mudah. Beberapa rumah dan kompleks perumahan yang saya lihat selalu saja ada kekurangan. Entah major atau minor, kekurangan tetaplah kekurangan. Saya tidak ingin berhadapan dengan permasahalan ‘kekurangan’ ini di belakang hari. Maka cukup lama untuk mencari rumah yang sesuai dengan keinginan.

Setelah cukup lama, akhirnya saya menemukan satu lokasi yang cukup sesuai kriteria. Tentu saja, harus ada kriteria yang dikorbankan. Kali ini saya harus berdamai dengan harga, budget terpaksa dinaikkan untuk menyesuaikan kriteria lainnya yang ada. Setidaknya, di kriteria budget, uang jajan saya yang dikorbankan. Bukan lainnya.

Proses beli-bangun-pindah rumah ini masih baru tahap awal. Masih sangat panjang dan saya harap semua berjalan normal. Semoga kedepan, kalau jadi dan berjalan lancar, rumah ini bisa menjadi ‘rumah’.

Buat saya sendiri, sebenarnya kriteria sebuah rumah tidaklah kompleks.
Saya hanya ingin rumah yang tenang dan menenangkan.
Tidak perlu tinggi menjulang, tapi selalu menimbulkan rasa ingin pulang.
Tidak perlu mewah, tapi cukup untuk menjadi tempat istirahat dan melepas lelah.

“We can work hard to get or buy the biggest house in the world. But having a sweet home is another thing”.

Selamat hari minggu. Jangan lupa (mencari) bahagia.

2 COMMENTS

  1. bisa relate, meski sampe sekarang hanya menyewa, rumah yang akan selalu menjadi tempat pulang tentu harus yang terbaik (setidaknya untuk sekarang).

    • Iya mas Zam, rumah itu yang penting bisa menjadi ‘rumah’. Sewa bukan masalah.

      Tapi kalau sudah berkeluarga, kadang sewa atau beli tidak bisa diambil sebagai keputusan sendiri. Jadi, ya beli deh
      😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here