Sudah Tua Kok Masih Main Game?

Kamu pasti pernah mendengar, atau bahkan melontarkan pertanyaan sejenis ini. Sudah tua dewasa kok masih main game? Kayak anak-anak aja!

Saya sendiri sering banget denger dan dapat pertanyaan macam ini. Mungkin orang di sekitar saya risih kalau lihat saya baca-baca berita tentang game, nonton review atau gameplay, tutorial sampai jajan hal-hal yang berkaitan dengan game. Karena menurut mereka, di usia 30-an, sudah bukan masanya lagi saya untuk bermain dengan hal-hal seperti itu. Masa iya sih?

Sedikit cerita tentang saya dan game. Pertama kali mengenal game mungkin sekitar akhir 90-an, waktu itu saya inget game pertama yang saya mainkan adalah Mario Bros di Nintendo. Bukan punya saya, tapi sepupu. Dari situ kemudian saya punya SEGA, naik ke Playstation dan masuk ke dunia PC Games. Dan sampai sekarang, saya masih memainkan beberapa games PC meski tidak terlalu intense.

Kalau ditanya kenapa masih main game, padahal sudah tua dewasa dan sejenisnya, sepertinya enggak ada cara yang pasti untuk jelasinnya. Tapi buat saya pribadi, main game itu salah satu cara mengisi waktu luang yang positif. Dengan kondisi jauh dari keluarga, saya butuh aktifitas yang sedikit positif dan mampu mengisi waktu luang. Dan salah satunya ya main game!

Main Game Punya Dampak Negatif?
Belakangan ramai pemberitaan yang menyebutkan kalau bermain game memberikan dampak negatif, khususnya untuk anak. Mulai dari ketagihan dan memunculkan sifat malas karena keasikan main game sampai yang terbaru diberitakan kalau game dapat meningkatkan sisi agresif anak karena mereka meniru game yang dimainkan. Belakangan beberapa game sukses di blacklist oleh Kominfo (bener gak ya?) dan dilarang beredar.

Memang sih saya enggak akan bilang kalau kabar di atas salah. Memang banyak game yang menjual perang, perkelahian, kekerasan sebagai tema utama dan laris dimainkan. Tapi perlu diperhatikan kalau itu semua ternyata mengambil kasus ‘anak’ sebagai subjeknya. Jadi ya kita enggak bisa menyalahkan game ketika anak mendapatkan efek negatif karena bermain game. Salahkan diri kita sendiri karena anak yang bermain game sudah selayaknya berada di dalam pengawasan kita sebagai orang tua. Dan karena alasan itu tadi, saya bilang kalau game dengan genre tertentu justru lebih cocok dimainkan orang tua dewasa.

Dampak Positif Bermain Game?
Bicara soal dampak negatif, maka kita juga harus melihat dampak positifnya bermain game. Dari sudut yang sama, melihat hasil penilitan yang diungkap media-media, bermain game terbukti meningkatkan kemampuan kognitif, persepsi, penalaran dan kreatifitas. Beberapa game justru disebut meningkatkan kemampuan kerja otak karena menampilkan teka-teki yang harus dipecahkan.

Diluar hasil-hasil penelitian, saya sendiri punya beberapa dampak positif dari bermain game yang saya rasakan secara langsung.

Melatif kreatifitas. Dalam beberapa game yang tidak punya alur khusus, seperti DOTA 2 dan PES atau FIFA, kita dituntut untuk bermain kreatif dalam mengatur strategi dalam menghadapi lawan. Perubahan cara bermain lawan memancing otak untuk menemukan cara mengantisipasi serta cara menghadapinya.

Melatih kerjasama tim. Sekarang ini banyak game yang harus dimainkan bersama-sama pemain lainnya. Misalnya DOTA 2 atau FPS macam The Division. Dalam game ini kita tidak bisa bergerak sendiri dan semau kita. Jadi kerjasama tim sangat penting kalau ingin memenangkan permainan.

Membantu sosialisasi. Buat beberapa orang, bersosialisasi itu hal yang cukup sulit dilakukan. Kesulitan berkomunikasi karena tidak tahu harus ngomongin apa jadi salah satu alasannya. Dengan game, kita bisa berkumpul dengan orang yang ada dalam ketertarikan yang sama. Sehingga mudah membuka pembicaraan.

Meredakan stress. Bermain game adalah salah satu aktifitas yang terbukti sukses dapat menekan stress dan kebosanan atas rutinitas harian. Bahkan dari artikel yang pernah saya baca, bermain game ternyata dapat meningkatkan kadar kebahagiaan seseorang.

Mengisi waktu luang. Setiap orang pasti punya hobi untuk mengisi waktu luang mereka. Entah itu mancing, olahraga, koleksi mainan dan bermain game. Dan untuk saya yang jauh dari keluarga, hobi seperti ini adalah hal yang penting agar waktu kosong saya tidak berbuat yang aneh-aneh.

Dan dari dampak positif, pasti juga ada dampak negatif yang saya rasakan. Mungkin yang langsung terlihat adalah kebiasaan begadang untuk main game dan tabungan yang terus menipis karena harga game original yang semakin mengerikan!

Kembali ke pertanyaan, kenapa sudah tua kok masih main game itu, enggak ada jawaban khusus yang bisa memberikan rasa puas buat orang yang bertanya. Tapi mengutip dari salah satu quote yang saya suka, “Boys never grow up. They just get older, and their TOYS get more expensive“. Enggak ada yang salah punya mainan, termasuk bermain game. Yang terpenting mainan itu masih di area positif dan kita bisa mengatur waktu dan keuangan dengan baik.

Tulisan Lainnya

Dukung Calon Presiden Jagoan Boleh Saja, Asal̷... 9 April 2014 kemarin, Indonesia baru saja melaksanakan Pemilihan Umum untuk memilih wakil rakyat yang akan duduk di kursi-kursi legislatif pemerintaha...
Cara Gunakan Xiaomi Bluetooth Gamepad di Laptop Kemarin saya sudah posting tentang unboxing serta review Xiaomi Gamepad secara singkat. Iya, saya emang enggak terlalu jago bikin review-review mendet...
5 Strategi Dasar Wajib Dikuasai dalam Bisnis Onlin... Siapa yang tidak mengakses internet hari ini ? Hampir tidak ada. Hampir semua orang mengakses internet di Indonesia. Bagaimana strategi melakukan pema...
Bepergian Naik Pesawat, Harus Tahu Hal Penting Ber... Pagi ini saya baru saja melihat satu lagi hal yang menarik ketika berada di kabin pesawat dan sedang mencari tempat duduk. Di lorong (isle?) barisan k...

2 Comments

Leave a Reply

badge