23 Jam Di Kota Makassar: Pisang Epe, Coto Makassar dan Pallu Basa

Setelah berkunjung ke Bali beberapa waktu lalu, kali ini saya berkesempatan untuk berkunjung ke Kota Makassar. Kota yang merupakan ibukota Propinsi Sulawesi Selatan ini akhirnya menjadi kota pertama yang saya kunjungi di Pulau Sulawesi. Sekaligus jadi kota paling jauh yang pernah saya lihat. Sampai tulisan ini saya buat.

Makassar dan Ujung Pandang. Awal dapat tugas untuk berkunjung ke Makassar, hal pertama yang saya lakukan adalah memesan tiket. Agak tricky juga ternyata, karena saat memesan tiket yang muncul adalah Jakarta – Ujung Pandang. Bahkan setelah tiket saya pesan dan dikirim ke meja kerja, saya sampai berulang kali melakukan pengecekan antara surat tugas dan juga kota tujuan di tiket pesawat. Dan setelah tanya sana-sini, ternyata Ujung Pandang adalah ‘nama lama’ dari Makassar.

Menurut Wikipedia, nama Ujung Pandang digunakan sampai dengan tahun 2000-an hingga kemudian kota ini lebih dikenal dengan nama Makassar. Dalam penerbangan menuju Makassar, pesawat akan mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Lagi-lagi, menurut peta Google, bandara ini terletak di daerah (atau kecamatan?) Ujung Pandang. Untung sampai ke jantung Kota Makassar, masih dibutuhkan waktu sekitar 30 menitan.

Saya mendarat di Makassar sekitar pukul 14.30 WITA dan langsung menuju kantor untuk melaksanakan tugas kunjungan. Enggak terlalu banyak yang harus dikerjakan. Jadi ketika jam kantor pulang pukul 5 sore, saya sudah bisa meninggalkan kantor untuk menuju hotel yang memang sudah dipesankan. Karena kebaikan seorang teman lama, saya diajak untuk mencicipi salah satu makanan khas di Kota Makassar, Pallu Basa Onta.

Dari namanya, kamu jangan berfikir kalau ini adalah makanan yang terbuat dari daging Onta ya. Sama sekali bukan. Nama makanannya adalah Pallu Basa. Dan karena dia berlokasi di Jalan Onta Lama, Mandala, Mamajang, Makassar, maka nama tempatnya menjadi Pallu Basa Onta. Begitu masuk Jalan Onta, ada warung tenda dengan nama yang sama. Tapi yang saya makan adalah yang berlokasi di ruko, sekitar 20 meter masuk Jalan Onta terlebih dahulu, lalu ada di sebelah kanan.

Dari ngobrol-ngobrol awal, tempat makan ini hanya menyajikan menu makanan Pallu Basa saja. Ada variasi menu Pallu Basa yang disajikan, tapi saya enggak bertanya terlalu banyak. Yang saya pesan adalah Pallu Basa isi daging saja. Kalau tidak salah ingat, bisa juga isinya campur jeroan dan telur (alas).

Saat pelayan datang menyajikan menu pesanan, saya langsung terucap “oalah, kayak rawon toh?”, yang langsung diiyakan oleh teman saya. Hanya saja perbedaannya, menurut lidah saya, Pallu Basa ini lebih berani dalam memberikan bumbu sehingga terasa lebih gurih dan kental. Mungkin kentalnya kuah ini juga dipengaruhi oleh serundeng kelapa yang ada di dalam kuahnya. Dalam penyajiannya, Pallu Basa dimakan bersama nasi putih. Nanti kamu tahu alasannya kenapa disajikan bersama nasi putih. Terusin aja bacanya ya.

Kuliner Makassar Pallu basa Onta

Selesai makan, saya diantar menuju hotel Best Western Makassar. Tidak terlalu sulit menemukan letak hotel ini. Dari Jalan Boto Lempangan, kamu tinggal menyusuri jalan hingga ujung pertigaan. Kamu langsung dapat melihat hotel ini berdiri tegak di sisi kiri jalan. Tapi sampai di lokasi, ternyata tempatnya agak-agak tanggung. Dari tempat keramaian kota dia gak terlalu dekat, dengan Pantai Losari juga lumayan jauh.

Untuk fasilitas hotel, dengan room rate yang saya dapatkan dan label bintang empat yang ada, jujur saya agak kecewa dengan fasilitas dan kualitas kamarnya. Bahkan sampai makanan sarapannya. Semua biasa-biasa saja. Saya jadi ragu, apa saya salah melihat deskripsi hotel saat memesan. Sama-sama bintang empat, tapi menurut saya lebih baik waktu di Sanur Paradise Plaza Hotel Bali. Tidak jelek kok, hanya biasa-biasa saja. Dalam kamar ada fasilitas Wi-Fi, bathup, TV Kabel. Sedangkan untuk fasilitas luar yang saya perhatikan hanya kolam renang yang sangat romantis, seandainya boleh dipinjam untuk berenang berduaan bareng pasangan.

This slideshow requires JavaScript.

Sekitar pukul 7 malam, saya memutuskan untuk keluar melihat keramaian Kota Makassar. Tempat tujuannya sudah pasti Pantai Losari yang ternama itu. Untuk transportasi, di Makassar memang ada angkutan dalam kota, becak dan bentor. Tapi demi kemudahan, takut nyasar dan dikerjai ongkos mahal, saya pilih pakai aplikasi Go-Jek saja. Memang sih driver Go-Jek di Kota Makassar berdasarkan peta yang terlihat enggak terlalu banyak. Saya sendiri harus menunggu sekitar 5 menit sebelum akhirnya driver tersebut sampai ke lokasi saya. Jauh kan?

Sekitar 10 menit perjalanan, saya sampai di lokasi Pantai Losari Makassar yang terkenal itu. Malam itu suasana cukup ramai dan sangat macet. Entah setiap malam seperti ini, atau memang kebetulan sedang ada perbaikan trotoar dan persiapan pameran alat perang, sekaligus persiapan acara kebhinekaan atau apa itu namanya. Dan karena keramaian itu pula, saya jadi tidak bisa mengambil foto tulisan Pantai Losari yang fenomenal itu.

Di pantai ini, atau kata abang Go-Jek adalah lokasi anjungan, kita dapat melihat berbagai tulisan iconic seperti Makassar, Bugis dan Pantai Losari, beberapa patung pahlawan dan sebuah Masjid yang dibangun di atas air laut. Kabarnya sih, kalau air sedang pasang, maka masjid tersebut akan terlihat mengapung. Maka itulah masjid di Pantai Losari ini disebut juga sebagai Masjid Terapung.

Puas bersantai dan melihat keramaian di Pantai Losari, saya menyusuri jalan raya yang ramai dengan gerobak penjual Saraba dan Pisang Epe. Biar makin afdol, saya akhirnya memutuskan untuk memesan makanan dan duduk bersantai.

Kuliner Makassar Saraba dan Pisang Epe

Saraba Makassar mungkin mirip dengan bandrek susu yang sudah sering saya minum. Hanya dari rasanya, ada yang berbeda dari campurannya. Tebakan saya, saraba ini ada campuran santan dan gula merahnya juga. Tapi mungkin saya salah. Cuma yang jelas, rasanya enak. Apalagi diminum selagi hangat.

Untuk Pisang Epe khas Makassar sendiri, buat saya makanan yang cukup unik. Sederhananya sih ini adalah pisang bakar. Cuma pisang yang digunakan adalah pisang kepok baru matang dan belum terlalu lembut. Pisang ini kemudian dibelah dan di jepit hingga penyet. Baru kemudian dibakar. Atau mungkin dibakar dulu, baru dipenyetin. Kurang memperhatikan juga. Saya sengaja pesan Pisang Epe original untuk dapat menikmati rasa khas makanan ini. Dan pisang bakar hangat dikasih gula aren cair itu nikmat BANGET. Kalau kamu ke Makassar, kamu harus cobain PISANG EPE!

Sebelum balik ke hotel, saya menyewa sebuah becak untuk mengantarkan saya ke toko oleh-oleh khas Makassar. Pukul 10 malam, pilihan hanya ada di Toko Keradjinan. Setidaknya itulah kata si Abang Becak. Sedikit berbelanja makanan, kain dan kopi toraja, saya akhirnya kembali ke hotel untuk beristirahat.

Pagi harinya saya dijemput teman dan diajak untuk sarapan diluar. Mumpung lagi di Makassar, makanan hotel ada dimana-mana katanya. Menyusuri kota Makassar yang pagi itu lumayan macet, kami akhirnya berhenti di sebuah warung di pojokan jalan yang menyediakan menu Coto Makassar. Wuah, ini dia makanan yang paling membuat saya penasaran!

Kuliner Khas Coto Makassar

Ketupat mininya enggak kepoto 🙁

Makanan datang dan saya langsung kaget. Ini jadi apa bedanya Coto Makassar dan Pallu Basa?
Tapi begitu saya cobain kuahnya, wuihhh itu rasa gurih kaldu dan bumbu-bumbunya langsung bikin nafsu makan meningkat drastis. Kuahnya yang tidak terlalu kental (tanpa ada serundeng kelapa) seperti Pallu Basa plus rasanya yang gurih, membuat makanan ini jadi lebih lancar masuk mulut dan perut saya. Dan yang membedakan lagi adalah Coto Makassar disajikan dengan ketupat-ketupat kecil. Ini yang membedakan penyajian Coto Makassar dengan Pallu Basa tadi.

Selesai sarapan dan berbincang ringan, saya akhirnya kembali ke hotel untuk menyiapkan perjalanan pulang ke Jakarta dengan pesawat pukul 13.10 WITA. Belum termasuk delay. Dan dengan delay, total saya berada di Makassar sekitar 23 jam saja. Namun ini 23 jam yang lumayan dan bikin saya rindu. Rindu manisnya Pisang Epe di kala malam, gurihnya Coto Makassar di kala siang dan ingin melihat indahnya matahari tenggelam di Losari ketika senja datang!

Tulisan Lainnya

Tips Cara Packing Untuk Mendaki Gunung Saya sudah lama pakai tas keril (carrier) untuk perjalanan. Mulai dari pindah - pindah tugas, pergi dinas pelatihan atau juga liburan. Dan terbaru, ya...
Review Aplikasi Tiket Kereta Api Untuk Android Ada kabar gembira untuk kamu yang sering melakukan perjalanan dengan kereta api. Setelah meluncurkan website untuk pembelian tiket kereta api secara o...
Kuliner Bandar Lampung: Sate Padang Sidi, Kampung ... Makanan khas dari daerah tertentu memang selalu memiliki cita rasa kedaerahan dar rasa yang bikin kangen. Meski saya bukan berasal dari daerah Padang,...
Kuliner Surabaya – Bebek Palupi Rungkut Review Kuliner - Kemarin saya pernah menuliskan warung makan khas kuliner bebek yang baru membuka cabangnya di Bandar Lampung. Memang ada banyak refer...

3 Comments

Leave a Reply

badge