Sunrise Dan Menggigil Di Gunung Bromo

Salah seorang warga pernah bercanda ketika saya pertama kali ke Bromo, “Orang yang ke Bromo, pasti akan kembali lagi. Entah karena kangen, atau penasaran belum dapat sunrise yang pas“. Malam itu kami tertawa mendengarnya. Tapi malam ini saya tersenyum mengingatnya.

Berburu Foto di Gunung Bromo
Kunjungan pertama saya ke Bromo, 2013

Siapa sangka, sejak pertama kali melihat bromo pada 2013 lalu, saya terhitung sudah 3 kali ke kawasan Bromo Tengger Semeru ini. Dan pertengahan Agustus 2019 kemarin adalah kunjungan saya yang ke 4 kalinya. Dan sama seperti yang pertama kali, saya masih bersemangat untuk menikmati dingin dan indahnya Bromo.

Perjalanan pagi itu dimulai tidak terlalu tergesa-gesa. Saya beruntung mendapat pesawat menuju Malang di jam yang tidak terlalu pagi. Untuk ke Bandara Soekarno Hatta, saya memilih bersantai naik bus saja. Naik taksi terlalu mahal kalau sendirian. Toh bus bandara sekarang sudah lebih cepat dan waktunya cukup fleksibel. Kalau mau lebih pasti, kamu bisa cek jadwal lengkap Big Bird bandara terlebih dahulu.

Karena perjalanan kali ini (lagi-lagi) dalam rangka urusan kantor, tentu saya tidak langsung menuju Bromo. Tapi terlebih dahulu menyelesaikan segala urusan di Kota Malang dan Batu. Selesai dari itu, barulah kami meluncur ke Bromo melewati jalur Probolinggo. Maklum, kami memakai bus ukuran besar. Jadi tidak memungkinkan melewati jalur Malang. Itu kata pemandu sih.

Kami tiba di Bromo tepat sebelum azan maghrib berkumandang. Setelah briefing singkat, kami kemudian makan malam dan beristirahat lebih awal. Perjalanan wisata Bromo memang dimulai sejak dini hari. Jadi tidur lebih awal itu adalah pilihan yang baik.

Berburu Sunrise Gunung Bromo

Persinggahan pertama dari wisata bromo adalah berburu sunrise. Jika ingin mendapatkan spot di titik tertinggi, Penanjakan 1, maka kita harus bergerak lebih awal. Mungkin sekitar pukul 2 dini hari sudah memulai perjalanan. Tapi bergerak dalam kelompok besar, bukan hal mudah untuk bisa memulai perjalanan semalam itu. Akhirnya kami baru mulai berjalan ketika waktu menunjukkan hampir pukul 4 pagi. Iya, kesiangan.

Sunrise Point Bukit Cinta Gunung Bromo
Menanjak ke Puncak Bukit Cinta
Sunrise Bromo Dari bukit Cinta
Sunrise Bromo Dari bukit Cinta

Kondisi yang ramai dan waktu yang sudah agak terlalu siang, membuat kami akhirnya hanya dapat mencapai sunrise point di Bukit Cinta. Pengalaman pertama buat saya. Setelah mendaki anak tangga yang lumayan bikin nafas terengah-engah, kami akhirnya duduk santai di tepi tebing menunggu matahari terbit.

TIPS : udara bromo di malam dan pagi hari sangat-sangat dingin. Hari itu kami ‘kebagian’ sekitar 10 derajat celcius. Jadi jaket tebal, sarung tangan sampai topi kupluk yang sudah dipakai sepertinya masih kurang saja.

Beruntung hari itu cuaca sangat cerah, sehingga kami mendapatkan pemandangan sunrise yang cukup indah. Terlebih ketika matahari sudah sedikit meninggi, pemandangan Bromo Tengger Semeru dari atas sungguh menawan. Rasanya tidak ingin cepat-cepat turun dahulu!

Meniti Tangga Kawah Bromo

Titik wisata yang kedua adalah kawah Bromo. Karena sudah pernah sebelumnya, dan lokasi anak tangga yang cukup jauh, saya awalnya memutuskan untuk menunggu di lokasi parkiran saja. Sambil bersantai menikmati matahari.

harga naik kuda di gunung bromo
puncak kawah bromo

Sayangnya tawaran ‘kuda gratis’ dari panitia untuk membawa saya ke kaki anak tangga kawah Bromo ini sulit untuk ditolak. Akhirnya dengan menaiki kuda, yang tentu saja dikawal pemiliknya, saya menuju ke kawah Bromo. Dan kalau sudah sampai kaki anak tangganya, sudah pasti saya ikut sampai ke puncaknya pula!

Lava di Kawah Gunung Bromo

TIPS : Kalau kamu berniat ke kawah Bromo, sangat penting untuk membawa masker, bandana, buff atau apapun namanya yang dapat digunakan untuk melindungi pernafasan kamu. Debu di jalur pendakian ini luar biasa tebalnya.

Foto Keluarga di Pasir Berbisik

Entah mana yang lebih dahulu mendapat judul ‘pasir berbisik’, filmnya atau tempatnya. Tapi memang, area padang pasir luas di daerah Bromo ini menjadi lokasi pengambilan gambar untuk film Pasir Berbisik (2001) yang dibintangi Mbak Dian Sastrowardoyo.

Di sini tentu saja tim panitia mengajak untuk membuat foto keluarga untuk kantor dan video footage perjalanan. Area yang luas, terbuka dan tidak banyak objek pengganggu membuat mereka bebas lepas berekspresi. Saya sendiri lebih asik duduk santai sambil melihat beberapa motor berkejar-kejaran kemudian terjerembab di pasir.

TIPS : Debu dan pasir vulkanik termasuk benda ‘jahat’ untuk kaca dan keluarganya. Jadi jangan lupa lindungi lensa, layar hape, layar kamera dan sejenisnya dengan baik. Dan jangan asal mengelap debu yang menempel di kaca. Khawatir tergores!

Bukit Teletubbies

Sama seperti di Pasir Berbisik, di bukit ini kita bebas untuk berfoto. Perbedaannya, jika tadi adalah padang pasir, maka di Bukit Teletubbies ini adalah sebuah savana yang luas dengan padang rumput yang menghijau. Tapi kalau kebetulan sedang gersang, bisa saja kamu datang saat dalam kondisi padang rumput yang coklat….

Bukit Teletubbies Gunung Bromo Malang

Karena ini adalah titik wisata terakhir, kamu juga bisa bersantai sambil makan es krim atau cilok. Iya, di tengah alam yang jauh dari jalan raya ini, dimana mobil Land Cruiser 4WD saja kadang tergelincir, ada mamang-mamang cilok bergerobak motor berjualan. Ajaib.

Buat saya sendiri, perjalanan sesungguhnya justru tidak berada di titik-titik wisata itu. Kecuali di bagian sunrise ya, it’s magical though. Asiknya Bromo justru di tiap perpindahan antar titik tujuan para wisatawan itu.

Menghitung bintang dari halaman kamar hotel di tengah malam, menyusuri jalan terjal mengejar sunrise point dengan badan kedinginan, naik kuda menembus debu yang beterbangan sembari khawatir jatuh dari kuda, bertukar tawa dengan wisatawan lain di tangga kawah Bromo, kebut-kebutan dengan mobil 4WD di kawasan pasir berbisik, dan terakhir tentu saja bercanda dengan mamang cilok di Bukit Teletubbies.

Setiap orang memang punya cara sendiri untuk menikmati perjalanan. Dan setelah 4 kali ke daerah Bromo Tengger Semeru (3 kali Bromo, 1 kali Semeru), saya masih belum merasa bosan. Entah kapan bisa kelayapan sampai ke sana lagi. Tapi kali ini, entah kenapa saya ingin sekali mencoba bertualang dengan motor adventure gitu.

Kamu, sudah pernah ke Bromo?

4 COMMENTS

Leave a Reply to D Sukmana Adi Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here