Review Film Maleficent (2014), Cerita Peri Yang (Katanya) Jahat

Waktu saya membuat post tentang Film Maleficent kemarin, saya sebenarnya agak takjub juga dengan kreatifitas pembuat film di Amerika sana. Mereka bisa mengambil sudut pandang lain dari sebuah cerita yang benar – benar sudah mendunia. Tapi saya sempat berfikir, apa bisa ya tokoh jahat bernama Maleficent yang selalu disebut “Peri Jahat” ini menjadi fenomenal seperti Putri Aurora yang dikutuknya untuk tertidur?

Nah kebetulan kemarin anak – anak kos pada sewa mobil rental untuk jalan – jalan ke pemandian air panas di daerah Pacer, Mojokerto. Malamnya, itu mobil nganggur parkir diluar kos. Padahal masa sewanya kan masih ada sampe paginya. Maka dari itu, kami memanfaatkan itu mobil untuk jalan – jalan muter – muter Kota Surabaya. Akhirnya, perjalanan muter – muter geje itu berakhir di XXI Ciputra World untuk nonton Maleficent 3D. Nah, sekarang saya akan buat reviewnya. Dan warning nih sebelum diteruskan baca, ini postingan bakal spoiler abis. Jadi, take your own risk ya
đŸ˜€

Maleficent film terbaru angelina jolie

Cerita Film Maleficent 3D

Moors adalah sebuah hutan yang dipenuhi oleh keceriaan dan dihuni oleh makhluk – makhluk ajaib. Diantara para makhluk ini, ada seorang anak peri bernama Maleficent yang hidup diatas pohon. Sebagaimana peri yang sering digambarkan di banyak film, peri ini punya kekuatan ajaib, bisa terbang dengan sepasang sayap yang besar, serta memiliki sepasang tanduk. Iya, saya juga sampai sekarang masih kepikiran, itu kenapa peri kok ada tanduknya. Si Maleficent kecil ini juga punya wajah yang teramat cantik, beserta bibir yang sangat merona (baca : menor). Mungkin kamu bakal bingung kenapa bibirnya bergitu seksi, tapi nanti kalau si Maleficent ini sudah dewasa kamu bakal tahu kenapa
:p

Singkat cerita, Maleficent kecil bertemu dengan seorang anak yang memasuki Moors dan mencuri batu berharga. Anak bernama Stefan tersebut akhirnya berkenalan dengan Maleficent, dan berjanji suatu saat akan kembali ke Moors untuk menemui Maleficent. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bersahabat dan menjadi semakin dekat. Dan seperti persahabatan antara cewek – cowok pada umumnya, Maleficent akhirnya menaruh hati pada Stefan, terlebih setelah Stefan menciumnya dan bilang bahwa itu adalah ciuman cinta sejati.

Hingga pada suatu hari, Raja Henry yang memimpin sebuah kerajaan di dekat Moors membuat sayembara bahwa siapa saja yang dapat membunuh Maleficent akan dinikahkan dengan putrinya serta menjadi penerus singgasananya. Stefan yang sangat berambisi menjadi Raja akhirnya kembali lagi ke Moors untuk menemui Maleficent dewasa. Namun kali ini dia menyimpan sebuah rencana jahat, yaitu ingin membunuh si peri dan menjadi seorang raja. Tapi karena tidak tega, Stefan akhirnya memutuskan hanya untuk mengambil sayap Maleficent saja.

review film angelina jolie maleficent

Maleficent akhirnya menjadi sangat marah dan dendam terhadap Stefan. Hingga saat istri stefan melahirkan, Maleficent datang ke istana dan memberikan kutukan yang fenomenal itu. Dan serius, bagian ini efeknya keren banget. Ekspresi jahat Maleficent yang diperankan Angelina Jolie juga terasa banget.

Karena kutukan tersebut, akhirnya Raja Stefan akhirnya menitipkan anaknya kepada 3 peri penjaga. Ia juga memerintahkan semua pasukan kerajaan menyusun strategi untuk membunuh Maleficent. Sementara itu, Maleficent sendiri jadi memiliki hobi baru. Dia jadi rajin mengawasi kehidupan Aurora kecil, bahkan…dia malah cenderung melindungi sang putri!

Setelah Putri Aurora menjadi dewasa, Maleficent semakin menyayanginya. Bahkan, ia menyesal telah memberi kutukan dan mencoba mencabut kutukan tersebut. Sayang, kutukan tersebut terlalu kuat dan tidak bisa dicabut. Bahkan oleh Maleficent sendiri.

Setelah berusia 16 tahun, kutukan itu akhirnya benar – benar terjadi. Putri Aurora tertusuk jarum mesin pintal, dan akhirnya tertidur untuk selamanya. Maleficent mencoba untuk membangunkan Putri dengan membawakannya Pangeran Philips, pangeran negeri tetangga yang ditemui dan dicintai oleh Putri. Tapi ternyata cara itu gagal, true love kiss doesn’t exists. Maleficent pun menyesal dan meminta maaf pada Aurora yang sedang tertidur. Ia pun akhirnya berpamitan sembari mencium kening Putri Aurora. Dan ajaib, Sang Putri terbangun karena ciuman dari Peri Jahat yang telah mengutuknya!!!

Review Film Maleficent 3D

Kesan pertama yang saya dapat dari film Maleficent ini adalah…..mbak – mbak yang nyobekin tiket dandanannya keren. Dia pake make up menyerupai Maleficent, lengkap sama topi berbentuk tanduknya. Sayang dia ndak pakai sayap, dan bibirnya kurang menor. Oke skip..

Awalnya saya malas untuk menonton versi 3D film terbaru Angelina Jolie ini, alasannya karena takut kecewa seperti waktu menonton film How To Train Your Dragon 2 kemarin. Tapi ternyata saya salah, film Maleficent 3D ini benar – benar kerasa efek 3D nya. Bisa dibilang cukup puas lah dengan efek film, apalagi saat terjadi pertarungan – pertarungan.

Kalau soal cerita, lagi – lagi saya menyesal sudah membaca reviewnya. Soalnya sejak awal sudah ketahuan endingnya seperti apa. Tapi meski begitu, saya masih dapat menikmati alur cerita film ini.

Nah, walaupun cerita ini adalah side story dari dongeng Putri Tidur yang fenomenal itu, bukan berarti film ini masuk ke cerita dongeng anak – anak. Soalnya ada adegan kategori 17+ di dalamnya, kalau enggak salah sih hanya ada 2 adegan kissing. Tapi dapat jadi pertimbangan kalau anda berniat mengajak putra – putri anda ke bioskop.

Overall, film Maleficent ini bisa dibilang film yang sangat recommended untuk ditonton. Apalagi untuk penggemar Angelina Jolie, aktingnya keren abis. Meski di IMDB mendapat skor 7.5/10, secara pribadi saya memberikan film ini skor 8.5/10!!

Tulisan Lainnya

The Devil Wears Prada (2006), Duet Maut Anne Hatha... Sinopsis film - Andrea Sachs (Anne Hathaway), atau Andy, adalah seorang fresh graduate dengan segudang prestasi dari salah satu universitas yang sedan...
Review Film Hercules (2014), Saat The Rock Menjadi... Untuk orang yang besar di era 90-an, pasti masih inget dengan serial Hercules yang diputer di salah satu tipi swasta setiap hari sabtu atau minggu. Pe...
Film The Cobbler (2014) Kalau ada pertanyaan seperti ini, "Jika kamu bisa menjadi siapapun dan melakukan apapun yang kamu mau, kamu akan mejadi siapa dan melakukan apa?", mak...
The Walk (2015) Review Film - Jujur saja, mungkin kemarin-kemarin tak banyak orang yang mengenal nama Philippe Petit. Termasuk juga saya. Namun belakangan foto Philip...

Leave a Reply

badge