Review Film: Allegiant (2016)

Review Film: Setelah menunggu sekitar setengah tahun dari seri Divergent Series: Insurgent yang lalu, akhirya seri ketiga dengan judul Allegiant muncul juga di layar lebar bioskop tanah air. Meski sempat menolak untuk nonton di bioskop dengan alasan film ini masih dalam kategori “ah nanti aja nunggu panen pak tani kerja“, tapi kemarin saya akhirnya nonton di XXI Epicentrum juga bareng teman-teman.

Karena sudah mengikuti dua seri sebelumnya, maka meski tidak semegah seri dari Hunger Games, saya tetap berharap akan mendapatkan sesuatu yang lebih gereget. Ini karena pada dua seri sebelumnya, entah kenapa menurut saya seri yang punya cerita menarik ini justru digarap dengan tanggung. Karakternya dibangun kurang kuat, actionnya disajikan kurang gereget. Yah intinya benar-benar serba tanggung. Tapi bukan jelek loh ya, cuma seharusnya masih bisa lebih lagi. Dan ini yang saya harapkan muncul di seri Allegiant ini!

review cerita film Allegiant terbaru 2016

Cerita Film Allegiant (2016)

Cerita film Allegiant tanpa basa-basi langsung dimulai dari kondisi terakhir dari seri Insurgent. Saat itu Tris Prior (Shailene Woodley) yang sudah membuka pesan dari para ‘leluhur’ berhasil membuka gerbang tembok yang mengurung kota Chicago. Namun karena pertimbangannya, Evelyn (Naomi Watts) memerintahkan pasukannya untuk menjaga gerbang tersebut dan melarang siapapun untuk keluar dari Chicago.

Seperti bisa ditebak, Tris mengajak teman-temannya untuk menerobos dan keluar dari tembok tersebut. Mereka ingin tahu apa yang ada di dunia luar, siapa yang menciptakan mereka dan menyelesaikan konflik tersisa yang siap untuk meledak kembali di kota Chicago. Meski awalnya seperti berjalan dengan mulus, namun seiring berjalannya film kita akan dengan mudah pula menebak bahwa ‘something wrong’.

Warning: Spoiler Alert!
Sebenarnya saya agak kecewa dengan karakter Tris dalam film ini. Entah mengapa di seri sebelumnya dia gampang untuk curiga, tidak percaya orang lain dan digambarkan lemah meski ‘ngeyel’ justru makin lemah di seri kali ini. Dengan mudahnya dia mempercayai David, direktur biro penelitian yang sudah mengurung mereka dalam kota Chicago sebagai alat eksperimen. Bahkan menolak untuk mendengarkan perkataan Four, kekasihnya yang selama ini ia percayai.

Untuk segi action sendiri, jujur sekali lagi saya harus kecewa. Mungkin film ini memang tidak mengutamakan pertempuran sebagai sajian utamanya. Dengan dasar cerita yang menarik dan kuat, sepertinya si sutradara memang ingin mengangkat cerita film ini lebih ke unsur cerita yang kuat dengan bumbu action. Padahal adanya alat tempur yang serba canggih juga tentu akan menjadi sajian yang menarik kalau saja scene pertempuran-pertempurannya bisa lebih dimaksimalkan. Yah, at least begitu menurut saya yang memang doyan film action!

Anyway, sepanjang film saya hanya tahu jika Film Allegiant ini akan menjadi seri terakhir Divergent series seperti trilogy novelnya. Sayangnya saya salah. Dengan ending yang memang menurut saya sangat biasa aja, menggantung dan agak-agak tanggung, ternyata memang sudah dipersiapkan untuk satu sequel lagi dengan judul Ascendant (2017). Yah, semoga saja sequel penutup ini nantinya dapat menyempurnakan seri Divergent ini dari berbagai sisi.

Overall, ini benar-benar opini pribadi saya saja yang cuma penikmat film ala-ala. Untuk sebuah film dengan genre romance adventure, film ini mungkin bisa jadi tontonan akhir pekan yang menghibur. Dengan sedikit bumbu action yang lumayan seru (lumayan loh yaaa), maka film Allegiant ini tidak akan membosankan untuk ditonton dari awal hingga akhir. Mungkin. Untuk skor, rasanya versi iKurniawan.com akan memberikan 6.4/10 saja. Just OK.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *