Stand By Me Doraemon, Cerita Lama Bernuansa Fresh

Untuk orang yang melewati masa anak-anak di era 90an, pasti kenal banget sama tokoh kartun robot kucing berwarna biru ini. Yups, Doraemon memang terbilang sudah uzur usianya. Waktu saya masih kecil, melewati hari minggu tanpa menonton film Doraemon rasanya bakal hampa banget. Meskipun episodenya sering diulang sampai hapal, tapi entah kenapa enggak pernah bosan nontonnya.

Baru-baru ini, nama Doraemon dan kawan-kawan kembali ramai. Ini dikarenakan adanya peluncuran film animasi terbaru Doraemon yang berjudul Stand By Me Doraemon. Kabarnya film ini, dan beberapa event terkait lainnya, diluncurkan untuk menghormati perayaan 80 tahun Fujiko F Fujio yang telah menciptakan karakter robot kucing dari masa depan ini.

Sayangnya, di Indonesia peredaran film Doraemon versi 3D ini kalau saya enggak salah dipegang dengan keluarga Blitz. Jadi, agak sulit untuk menonton film ini karena di Surabaya rasanya tidak ada bioskop keluarga Blitzmegaplex ini. Untungnya, hari ini saya mendapat sebuah copy file film bajakan terbaru yang ternyata adalah film Stand By Me Doraemon. Agak merasa bersalah sih, tapi akhirnya saya bisa menonton juga film animasi salah satu karakter favorit saya ini!

review cerita film doraemon stand by me

Review Cerita Film Stand By Me Doraemon

Film ini diawali dengan kedatangan Sewashi, cucu dari cucu Nobita dari masa depan ke waktu dimana Nobita masih kecil. Dalam kedatangannya Sewashi ingin membantu memperbaiki hidup dan masa depan si Nobita ini. Dan untuk mempermudah semuanya, maka Sewashi menyuruh Doraemon untuk tinggal menemani Nobita dan memastikan Nobita dapat hidup lebih baik serta memperoleh kebahagiaan.

Selanjutnya sudah dapat ditebak, Doraemon dengan semua alat-alat ajaibnya kemudian membantu Nobita untuk dapat menyelesaikan semua masalahnya. Namun ternyata hal itu tidak banyak merubah kehidupan Nobita, baik di masa sekarang ataupun di masa depan. Bahkan dia merasa putus asa untuk mengejar gadis impiannya, Shizuka, dan menjadikannya istrinya di masa depan. Di tengah keputusasaannya tersebut, Nobita tiba-tiba memiliki pemikiran (yang menurut saya) sangat bijak. Bahwa selama ini dia selalu memikirkan masa depan dirinya, tapi tidak pernah memikirkan masa depan orang-orang yang dia sayangi!

Anyway, dalam cerita ini disebutkan bahwa dalam menjalankan misinya untuk membantu Nobita, Doraemon tidak akan dapat kembali ke masa depan selama Nobita belum bahagia. Dan jika misinya sudah tercapai, maka Doraemon tidak dapat tinggal lebih lama dan harus segera kembali ke masa depan. Hingga akhirnya Nobita berhasil merubah masa depan dan memperoleh kebahagiaan yang ia cari. Hal ini berarti Doraemon telah berhasil menyelesaikan misinya. Dan artinya, Doraemon harus segera kembali ke masa depan, meninggalkan Nobita dan kawan-kawan.

Cerita film terbaru Doraemon ini secara keseluruhan menurut saya memang tidak ada yang baru. Hampir semuanya ada di komik, bahkan di serial Doraemon minggu pagi yang dulu sering saya saksikan. Hanya saja kali ini yang saya tonton adalah versi dengan grafis yang lebih modern, serta musik yang sangat pas dengan cerita filmnya sendiri. Untuk suara, mungkin saya terlalu terbiasa dengan pengisi suara Doraemon versi Indonesia yang serak-serak keren itu. Jadi ketika saya menonton versi Bahasa Jepang ini, agak janggal saja. Apalagi mendengar suara Shizuka dengan wajahnya yang cantik banget itu. Haduh, jadi gagal fokus. Hihihi…

Untuk sebuah film berkategori film keluarga semua umur, entah mengapa saya merasa kurang sreg saja. Saya lebih menganggap film ini adalah film nostalgia untuk yang mengenal Doraemon sejak puluhan tahun lalu. Kalaupun ingin membawa anak-anak saat menonton film ini, sangat penting rasanya orang tua untuk mendampingi. Ini karena adegan-adegan yang syarat moral sepertinya belum dapat dipahami dengan baik oleh anak-anak.

Overall, film Stand By Me Doraemon ini meski tidak bisa dibilang sangat keren, tapi rasanya cukup sukses membuat saya bernostalgia ke masa kecil. Bahkan di beberapa adegan, saya sempat merasakan kerongkongan yang tercekat dan ingin menangis. Lebay ya? Yah, kan setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati film, hiburan dan nostalgia dari sebuah cerita. Rasanya, skor 7.6/10 untuk film ini tidaklah berlebihan.

Tulisan Lainnya

Nightcrawler (2014), Sisi Lain Tentang Membangun S... Minggu ini seperti movies marathon buat saya. Entah berapa judul film yang sudah saya unduh dan tonton dalam beberapa hari belakangan saja. Sayang, ke...
Review Film TMNT (2014), Ketika Kura-Kura Ninja Be... Untuk anak-anak ABG yang besar di era 2000-an, mungkin kurang familiar dengan istilah Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT). Iya, kalau anak 90-an pasti...
Review Film: Get A Job (2016) Review Film: Sejak melihat penampilannya di film Pitch Perfect, mungkin bisa dibilang kalau Anna Kendrick sekarang menjadi salah satu aktris favorit s...
Review Film: The Intern (2015) Review Film - Masa tua itu adalah masanya orang untuk beristirahat. Kalau bahasa populer kita, 'menikmati masa tua' gitu. Tapi pasti enggak semua oran...

3 Comments

    • iKurniawan

Leave a Reply

badge