Review Buku : Jomblo, Sebuah Komedi Cinta ; Adhitya Mulya

Saya seneng baca buku. Buku apa saja, asal isinya menarik dan enggak terlalu berat dan lebay, pasti saya suka. Contoh buku yang lebay ada banyak, coba aja intip ke toko buku ternama di jejeran novel. Ciri-cirinya biasanya, judulnya beda, tapi dengan tema yang sama : menjadi bodoh. Makanya belakangan saya males beli buku.

Tapi disini saya enggak akan nulis tentang fenomena buku ‘menjadi bodoh’ itu tadi. Saya sendiri enggak bisa nulis, jadi rasanya enggak pantes mau bilang buku-buku tersebut kurang menarik atau bahkan mbosenin. Selera orang kan beda-beda. Jadi mending saya bercerita tentang apa yang saya suka aja.

Adhitya Mulya, salah satu penulis favorit saya yang mungkin bukunya saya beli pertama kalu sekitar tahun 2003-2004. Sampai sekarang saya masih ingat jalan cerita buku yang saya beli tersebut. Buku yang beruntung itu berjudul “Jomblo, Sebuah Komedi Cinta”. Mungkin banyak yang kenal dengan judul buku ini, mengingat suksesnya film dan sinetron yang dibuat mengikuti suksesnya buku Kang Adhit ini.

Sepuluh tahun berlalu, Senin malam kemarin saya main ke toko buku besar di dekat Tunjungan Plaza. Di tengah-tengah buku-buku yang senada, saya memutuskan untuk membeli 2 buah buku. Kedai 1001 Mimpi karya Valiant Budi dan Jomblo karya Adhitya Mulya ini. Buku 1001 Mimpi nanti saya buatkan review terpisah. Sekarang mau bahas buku pertama dari Kang Adhitya Mulya ini dulu.Review Buku Jomblo Adhitya Mulya

  • Judul : Jomblo, Sebuah Komedi Cinta
  • Kategori : Novel Komedi, Fiksi
  • Pengarang : Adhitya Mulya
  • Penerbit : Gagas Media
  • Tahun terbit : Cetakan Pertama 2003
  • Tebal halaman : 211 Halaman
  • Harga : –

Pertama, maap saya lupa harga bukunya. Antara 45 ribu atau 55 ribu gitu, karena total kedua buku yang saya sebut itu 100 ribu rupiah. Dan buku Jomblo ini saat saya ambil, enggak punya label harga. Saya sempet berfikir kalau buku ini bakal dibagiin gratis, atau lagi dipajang di rak ‘diskon’ yang memang lagi digelar toko buku itu.

Kesan pertama setelah buku ini ada di tangan dan saya keluarkan dari plastiknya, covernya ganti. Tampak lebih muda, fresh dan simple. Ada gambar ayam di cover yang sepertinya mengambil ide dari cerita yang ada di dalamnya. Begitu buku saya buka, sial lem nya lepas. Covernya hampir copot, jadi terpaksa bacanya pelan-pelan kayak lagi ngelus tangan mantan.

Masuk ke isi buku, enggak banyak berubah. Sepertinya. Ceritanya tentang persahabatan 4 pemuda, Agus-Doni-Olip-Bimo, mahasiswa salah satu kampus teknik di Kota Bandung. Mereka semua punya kepribadian yang berbeda, mulai dari sikap, tampang sampai asal daerah. Tapi mereka punya kesamaan, sama-sama punya masalah dengan cewek.

Agus adalah tipe cowok yang punya kriteria rumit untuk mencari wanita yang ingin dijadikannya pasangan. Olip, pemuda pemalu yang setia untuk jadi pemuja rahasia kepada seorang wanita. Keren sih judulnya, pemuja rahasia. Padahal kalau diterjemahkan : terlalu cemen untuk mendekati wanita. Doni, cowok gaul keren yang selalu sukses mendekati cewek dan melakukan….errr, ya gitulah. Dan terakhir Bimo, …kayaknya yang ini juga gak usah dijabarin. Enggak tega.

Meski novel ini menceritakan tentang 4 tokoh utama, penulis berhasil membuat alurnya lancar dan nggak njelimet. Walau berisi cerita penuh konflik, pembaca diajak mengikuti alur cerita tanpa harus berfikir keras untuk menerjemahkan kata yang tertulis. Dan sesuai judulnya, Sebuah KOMEDI Cinta, saya masih selalu tertawa pada adegan-adegan humor yang ditampilkan. Padahal saya masih ingat dimana akan muncul sebuah joke waktu membaca.

Tapi, ada hal yang sangat mengusik perhatian saya ketika membaca Prakata Penulis. Kang Adhit menuliskan beberapa point yang mungkin kurang tahu apa maksudnya jika belum pernah membaca cetakan awal buku ini. Sepertinya, proses pendewasaan dalam membuat karya telah membuat Kang Adhitya Mulya memutuskan untuk ‘merubah‘ beberapa potongan cerita dalam novel. Kalau saya masih di usia awal 20an, pasti akan merasa kalau keputusan ini mengurangi hiburan yang ada dalam cerita. Tapi sebagai orang yang sudah tua, saya merasa keputusan yang diambil Kang Adhit ini sebuah pilihan yang bijak. Walau ternyata ada beberapa miss yang dihasilkan pada cerita yang mengekori perubahan adegan dan dialog tersebut. Contohnya, pada dialog Agus Lani di halaman 129 dan 209. Saya enggak mau terlalu detail, karena saya yakin yang belum pernah baca versi awal juga enggak akan notice.

Seandainya Mas Adhitya Mulya baca postingan ini, secara pribadi saya minta maap ya Mas. Bukannya saya sotoy, saya cuma menceritakan keresahan aja karena cerita dan dialog antara kedua anak manusia itu jadi agak ambigu. Overall, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini, dari sudut pandang tiap tokoh dan keputusan yang diambil di buku ini. Dan salah satu quote dari buku ini yang saya suka dan masih saya pegang sampai saat ini,

“Lebih baik elu salah ketimbang elu gak pernah tahu elu salah atau bener”
~ Doni, Jomblo Sebuah Komedi Cinta

Tulisan Lainnya

Review Buku Kedai 1002 Mimpi, Valiant Budi Setelah menyelesaikan membaca dan membuat review buku Kedai 1001 Mimpi beberapa waktu lalu, saya sebenarnya belum punya rencana untuk membeli dan memb...
Review Buku Hidup Itu Indah: Kumpulan Komik Opini Sebenarnya enggak tepat kalau saya bilang review atau resensi buku. Soalnya mengomentari tulisan, karya, pemikiran macam ini agak-agak sulit dan sanga...
Review Buku : Kedai 1001 Mimpi, Valiant Budi Buku Kedai 1001 Mimpi mungkin enggak bisa dibilang buku keluaran terbaru. Alasannya simple, sudah keluar 'sequel' buku ini yang judulnya Kedai 1002 Mi...
Review Buku Mobil Bokap Gue, Halluna Hardianti Saya adalah tipikal orang yang mengharapkan hiburan dari sebuah buku yang saya baca. Hiburan itu enggak berarti buku tersebut harus bisa membuat saya ...

Leave a Reply

badge