Ospek, Pengkaderan, dan Warisannya

Sekarang masa – masa SBMPTN, ujian masuk, saringan masuk atau apapun namanya seleksi untuk ke Universitas digelar. Mulai dari ujian reguler, undangan ataupun nama – nama lain yang saya kurang familiar. Maaf, udah sekitar 10 tahun lalu saya ikut ujian seperti ini.

Ada ujian masuk, berarti sebentar lagi bakal ada yang namanya mahasiswa baru atau Maba. Yang tahun lalu jadi maba, tahun ini bakal ngerasain yang namanya jadi Senior. Dan seperti biasa layaknya tahun – tahun sebelumnya, maka yang berlabel senior ini akan menggelar sebuah event penerimaan mahasiswa baru ke lingkungan mereka. Nama event tersebut bisa Ospek, Orientasi, Perkenalan atau Pengkaderan. You name it!

Dari pertama kali saya melihat event ini, saya selalu bertanya, apa sih tujuan pengkaderan ini? Dan jawabannya selalu sama,

  1. Untuk memperkenalkan maba ke lingkungan kampus
  2. Mempersiapkan maba masuk ke dunia kuliah yang berbeda dengan masa sekolah
  3. Membangun mental mereka ketika akan ke dunia kerja

apa itu bener?

sumber : duniakampuss.blogspot.com
sumber : duniakampuss.blogspot.com

Memang kalau itu tujuannya, maka tujuan dari pengkaderan itu sangat baik. Intinya biar kehidupan mereka gak sekitar kelas – warung makan – kostan. Ini juga tujuannya biar mereka enggak manja, jangan sedikit – sedikit minta tolong orang, atau terlalu menggantungkan semua sama orang lain. Enggak ada yang salah dengan tujuan pengkaderan.

Masalahnya adalah waktu pelaksanaannya, entah kenapa saya merasa gak ada urusannya dengan tujuan – tujuan tersebut. Beberapa kampus mewajibkan maba untuk gundulkan rambut, berpakaian putih hitam, dan memakai tanda pengenal kemana – mana. Lalu, kaitannya apa dengan tujuan – tujuan diatas?

Beberapa fakultas bersikap lebih keras, maba juga dibentak – bentak, dimarah – marah, disuruh tiarap di debu, bahkan di bara bekas bakaran api. Percaya deh, saya sudah lihat hal ini. Dan buat saya, itu semua enggak ada manfaatnya.

Ketika kamu kuliah, atau masuk dunia kerja, yang namanya dibentak atau dimarah mungkin level terbawah dari ‘hukuman’ yang bisa dikasih sama atasan. Karena hal yang paling mengerikan dari atasan bukan suaranya, atau makiannya, melainkan goresan pena yang bisa memberhentikan kamu kapan aja, atau ngasih nilai E di hasil ujian kamu.

Dengan semua alasan itu, lalu kenapa perlu ospek yang sangat fenomenal itu?

Nih beberapa hasil dari ospek yang ada. Pertama, mahasiswa jadi lebih takut sama senior daripada segan sama dosen. Saya menyaksikan gimana maba itu tertunduk dan mengucap ‘siang kak’ lalu diam. Tapi di kelas, dosen berulang kali mengelus dada melihat kelakuan mereka, atau bahkan berulang kali mengucap ‘coba jangan ramai ya’. Tapi semua itu tidak digubris. Ya, mungkin akan lebih efektif kalau dosen membawa senior untuk menjaga ketenangan kelas.

Kedua, ospek hanya akan melestarikan budaya ‘generasi’. Jadi kalau kamu nanti dikantor kerja, kemudian kerjaan kamu menumpuk karena dihibah sama senior kamu yang santai – santai, ya nikmatin aja. Toh dari zaman kuliah sudah warisannya seperti itu. Junior itu tempat pelampiasan, dan senior bebas memerintah.

Ketiga, ospek dengan tema seperti itu bakal menjadi warisan abadi. Ya, mereka yang dulunya maba diperlakukan demikian, ketika senior akan berfikir ‘tahun lalu kita diapain aja ya?’. Dan tahun berikutnya, mereka akan berbuat sama (atau lebih) kepada junior mereka. Makanya saya sering kali bilang, ospek itu warisannya penjajah. Hal yang gak ada gunanya selain menunjukkan siapa yang berkuasa.

Hmm..sementara itu aja kayaknya yang bisa saya tulis disini. Nanti di update kalau enggak males. Yang jelas, kalau memang mau memperkenalkan kampus kepada maba, cobalah cara yang lebih berguna dan bermanfaat.

Related Articles

4 thoughts on “Ospek, Pengkaderan, dan Warisannya”

  1. Még mindig tartja magát a téveszme, hogy aki szeret enni, vagy “szereti a hasát” az egyenlÅ‘ a mértéktelenséggel és ez fÅ‘leg nÅ‘k esetében nem lehet pozitív tulajdonság. Beszélni róla meg pláne nem.Az ilyen “nem jó” ételek sajnos nagyon tudnak öröklÅ‘dni családon belül, utód legyen a talpán aki ki tud törni a béklyóból és felvállalja az eltérÅ‘ vélményét.

  2. Saya rasa, sebenarnya ospek perlu, tapi tentu bukan ospek yang seperti sekarang ini. Tapi menurut saya ospek harus mencerminkan peran universitas sebagai lembaga akademik yang sarat dengan intelektualitas, research dan diskusi. Bukan tempat senior malak junior.

  3. Jaman aku kuliah dulu udah gak terlalu keras masa orientasinya, acaranya lebih seperti pengenalan kampus aja. Meskipun kadang ada juga aktifitas fisiknya kalau ada MaBa yang melakukan pelanggaran misalnya gak bawa barang-barang yang Senior minta (barang-barangnya juga masih masuk akal sih karena memang ada maksudnya). Mudah-mudahan tradisinya bisa seperti ini terus, supaya gak ada “tradisi dendam” untuk MaBa-MaBa di bawahnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *