Kemping Ceria Di Pantai Perawan, Pulau Pari, Kepulauan Seribu

Berawal dari obrolan warung kopi di sela-sela jam kerja, opini untuk lari dari kesibukan dan kabur ke Kepulauan Seribu akhirnya jadi kenyataan. Enggak perlu pakai perencanaan yang lama. Dicetuskan awal minggu, kami memutuskan untuk berangkat di akhir minggu. Akhirnya jadi juga nih ngeliat Kepulauan Seribu yang banyak diomongin orang!

Karena saya masih super nubie di dunia kemping-kempingan, maka dalam waktu seminggu saya cari-cari info apa saja yang harus disiapkan. Kesadaran diri sih bawa alat mandi, pakaian ganti dan sendal jepit. Dari masukan teman yang sudah bolak-balik ke Pulau Pari, siapin aja duit buat pangan dan papan. Udah, gitu doang.

Sabtu pagi kami berangkat. Dimulai dari perjalanan ke Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, kami memutuskan untuk naik taksi online. Alasannya cepet dan murah. Kalau naik angkutan umum khawatir telat plus nyasar. Kalau naik ojek online, untuk dua orang ternyata lebih mahal dari sewa taksi online. Dari daerah Senen ke Muara Angke cuma bayar 40 ribu saja!

Harga Tiket Kapal ke Pulau Pari Kepulauan Seribu

Ini tiket dari Pari ke Muara Angke. 1 tiket untuk berempat. Hemat kertas!

Sampai jembatan mau masuk ke daerah Muara Angke ternyata pagi itu maceeettt. Terpaksa kami turun di jembatan dan melanjutkan naik odong-odong. Sebenernya bisa sih berjalan kaki. Tapi karena kami adalah pejalan-malas yang gak tau jalan, jadi naik odong-odong aja. Murah, 5000 untuk tiap kepala dan turun di Pasar Ikan Muara Angke. Jalan sedikit, tembus di Pelabuhan Kali Adem. Berangkat dari kos pukul 5.30 pagi, sampai pelabuhan pukul 6.15. Sip. Bisa beli minum dulu!

Di pelabuhan sudah menunggu teman saya dan istrinya yang memang sudah sering ke Pulau Pari Kepulauan Seribu. Sudah siap sama tiket kapal juga rupanya. Harga tiket kapal tradisional ke Pulau Pari kalau enggak salah itu 40 ribu rupiah. Ada opsi lain, naik speed boat modern. Cuma harganya kalau enggak salah sih 180 ribuan. Potensial bikin miskin. Naik yang tradisional saja cukup kok kalau bareng teman-teman. Pukul 7.30 kami langsung menuju kapal!

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, diwarnai dengan goyangan dan hampir mabok laut, akhirnya kapal merapat di Pulau Pari. Demi udara segar dan menginjak daratan, kami langsung lompat jendela kapal dan nongkrong di pinggir pelabuhan. Pelajaran penting nih, kalau mau naik kapal laut kecil nan goyang-asoy, apalagi ombak besar, perut jangan sampai kosong. Sarapan dulu deh. Minimal nasi uduk sama ayam goreng (lohh??).

Kapal Penumpang Untuk Ke Kepulauan Seribu

Kondisi dalam kapal penumpang tradisional menuju Pulau Pari, Kepulauan Seribu

Mabuk Laut di Kepulauan Seribu

Kapal oleng kapten!

Dari pelabuhan, kami langsung menuju ke Pantai Perawan atau Virgin Beach. Namanya perawan karena memang bentuk pantainya yang masih alami. Hanya sudah diberi beberapa tambahan ornamen untuk membuat pengunjung nyaman saja. Misal warung-warung dan gazebo. Dari pelabuhan, mungkin kami harus jalan kaki kurang dari 1 kilometer.

Sampai di Pantai Perawan, kami langsung ambil posisi di camping ground sayap kanan. Di sini sudah berjejer beberapa tenda. Ada yang milik pengunjung, tapi ada juga yang memang milik warga sekitar yang disewakan. Karena teman saya dan istrinya membawa satu tenda, maka saya dan teman yang satu lagi menyewa tenda yang tersedia. Biaya sewa tenda di Pantai Perawan Pulau Pari ini sekitar 80 ribu untuk satu malam. Cukup murah kok. Tendanya juga besar, bisa muat 3 sampai 4 orang. Bisa 5 orang kalau mau tidur sambil peluk-pelukan!

Persewaan Tenda di Pari Kepulauan Seribu

Tenda pengunjung berjejer di pinggir pantai

Di Pulau Pari Ngapain Aja?
Karena kami ke Pulau Pari dengan misi leyeh-leyeh, pindah tidur dan males-malesan, maka kami ke Pulau Pari dengan enggak ngapa-ngapain. Ditambah cuaca mendung dan sering gerimis kecil, cocok deh tidur-tiduran di depan tenda sambil ngobrol dan minum kopi. Cuma waktu sore sebelum mandi, menyempatkan diri untuk berenang di laut. Biar afdol gitu. Masa ke laut tapi gak basah.

Kalau senang beraktifitas, di Pulau Pari ini banyak kok yang bisa dieksplor. Kamu bisa keliling pulau sambil bersepeda yang memang banyak disewakan. Atau bisa juga main banana boat di dermaga. Berburu sunrise dan sunset. Duduk manis dan romantis di gazebo tengah laut. Keliling cari spot snorkling. Ngeliatin orang pacaran. Yaa….gitu-gitu lah. Dan untuk yang gadget-minded, tenang aja. Sinyal di Pulau Pari kenceng abis walaupun cuma 3G. Oh iya, saya pakainya operator Oreo ya!

berburu sunrise sunset di kepulauan seribu

Sunrise di Pantai Perawan. Rada mendung sih…

Aktifitas Wisatawan di Pulau Seribu

Ada permainan banana boat juga. tapi dari dermaga

Pantai Perawan Pulau Pari Kepulauan Seribu

Mau berenang?

Pemandangan Pantai Perawan Kepulauan Seribu.jpg

Atau leyeh-leyeh sembari lihat pemandangan begini??

Untuk yang kemping ceria dan malas bawa kompor, panci, kuali, kulkas dan alat masak lainnya, tenang aja. Di Pantai Perawan ini juga tersedia banyak warung makan. Tapi jangan samakan dengan warung padang atau warteg yang banyak pilihan ya. Menu seadanya saja, tapi tetap enak. Contohnya mie instan, telur dadar atau nasi goreng. Untuk yang agak berkelas, ada juga warung bakar-bakaran. Menunya sih ikan bakar (baronang, kakap, kerapu), cumi bakar atau udang bakar. Untuk menu berkelas, kami sempat memesan dua porsi cumi bakar. Harga satu porsi 100 ribu rupiah. Rasanya…..kurang banyak dan bikin pingin nambah!

Minggu pagi setelah selesai berburu sunrise dan melanjutkan acara malas-malasan numpang pindah tidur, kami beres-beres untuk bersiap pulang. Kapal yang berangkat dari Pulau Pari menuju Pelabuhan Muara Angke jadwalnya sekitar pukul 10 pagi. Jadi jangan sampai ketinggalan. Harga tiket juga sama, 40 ribu rupiah. Belajar dari pengalaman, kami tak lupa sarapan dan ambil posisi duduk strategis. Paling belakang!

Setelah dua jam perjalanan dan kali ini enggak pakai mabuk laut, kami akhirnya merapat di Muara Angke. Teman saya dan istrinya lanjut pulang ke kos mereka pakai motor. Saya dan teman saya langsung naik feeder bus Transjakarta yang ternyata memang ada di depan pelabuhan. Turun di halte Transjakarta Stasiun Kota, kami tinggal melanjutkan perjalanan ke kos masing-masing.

perjalanan-balik-ke-muara-angke

Perjalanan Balik ke Jakarta. Sampai jumpa Pulau Pari!

sampai-di-pelabuhan-muara-angke

Yeeaayyy, merapat tanpa serangan mabuk laut!

Kemping ceria di Pulau Pari, Kepulauan Seribu ini rasanya bisa diulang lagi. Kala butuh refreshing dan cari tempat yang enggak rusuh, bising dan penat, lari ke Pulau Pari bisa jadi pilihan. Tapi lain kali, mungkin bawa persiapan lebih matang. Bawa camilan dan handuk. Nongkrong gak nyemil itu bengong doang. Mandi gak handukan itu gak asik. Basah!


Tulisan Lainnya

Singapura, Negara Favorit Backpackers Pemula Untuk para budget travellers, atau lebih sering disebut backpackers, Singapura mungkin bisa dibilang sebagai negara favorit untuk dijadikan negara tuj...
Bepergian Naik Pesawat, Harus Tahu Hal Penting Ber... Pagi ini saya baru saja melihat satu lagi hal yang menarik ketika berada di kabin pesawat dan sedang mencari tempat duduk. Di lorong (isle?) barisan k...
Pengalaman Mencoba Hotel Transit Stasiun Gambir Mungkin terdengar agak aneh, tapi saya adalah tipe orang yang memiliki kesenangan tersendiri kalau bisa menginap di hotel. Apalagi kalau hotelnya berb...
Berburu Oleh-Oleh Khas Kota Batu dan Malang Akhir bulan Februari 2016 lalu, saya mengajak keluarga untuk liburan ke kota Surabaya. Kebetulan waktu itu ada yang mau sedikit diurus di kampus, jadi...

Leave a Reply