Tulisan

Industri Kreatif Anak Bangsa Melawan Paradigma

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat undangan di acara focus group discussion (FGD) sebuah lembaga yang kebetulan menjadi partner kerja kantor. Bertempat di salah satu hotel di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat, saya datang tanpa tahu tema apa yang akan dibahas. Tapi karena ini soal pekerjaan, maka jelas tidak akan lepas dari penyediaan pembiayaan untuk peningkatan usaha masyarakat.

Sampai di lokasi, acara sudah dimulai. Melihat rundown acara, saya cukup terkejut. Dalam FGD kali ini, kami akan mendengarkan pemaparan atas ide-ide kreatif dari beberapa nama besar di dunia digital. Ada yang dari marketplace online kenamaan, salah satu raksasa pelopor transportasi online dan beberapa provider digital payment besar.

Dompet Kunci Handmade Kulit Hasil Pengrajin Lokal, bagus kan?

Mereka semua datang dengan konsep bagaimana membuat penyaluran pembiayaan untuk usaha masyarakat kecil ini bisa dilakukan cashless dalam satu ekosistem yang saling mendukung antar pelaku usaha kecil. Idenya adalah memberikan modal usaha, lalu para pelaku usaha itu dipertemukan dalam satu wadah untuk saling memenuhi kebutuhan usaha mereka.

Misalnya begini, pemilik usaha tempat potong hewan akan dipertemukan dengan pelaku usaha samak kulit. Selanjutnya, pelaku usaha samak kulit itu akan dihubungkan dengan pengrajin kulit untuk menjual kulit yang siap olah. Sampai kemudian seterusnya rantai tersebut akan sampai ke pelaku usaha yang lebih besar, yang lebih mampu bersaing di pasar.

Sebuah ide yang sangat menarik, karena dalam prakteknya pelaku usaha kecil ini memang sangat sulit untuk dapat berkembang. Entah itu karena kekurangan modal usaha, atau karena ketidakmampuan mereka sendiri untuk dapat bersaing di pasar.

Vietnam Drip Coffee Bandar Lampung
kedai kopi lokal, berjuang di antara nama besar coffee shop import

Mau Barang Bagus Murah? Produk Import Dong!

Seperti sudah menjadi paradigma di kalangan masyarakat, produk import selalu memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan produk lokal. Selain itu, dengan nama dan brand yang mentereng, produk impor selalu saja punya tempat dan mampu untuk menarik minat pembeli. Mulai dari produk fashion, aksesoris bahkan sampai ke gerai kopi juga pilih yang import.

Fenomena tersebut tidak hanya ‘menyerang’ pangsa pasar kalangan atas untuk produk branded saja. Belakangan, produk-produk dari negeri seberang secara masif semakin memenuhi pasar. Bahkan jika kita melihat ke berbagai marketplace online, hampir setiap kategori produk dipadati oleh barang-barang impor dengan harga murah.

Omset penjualan marketplace 2017

Sayangnya, masih banyak pula konsumen yang menempatkan ‘harga’ di prioritas pertama ketika memilih barang. Untuk kualitas, bisa dikesampingkan asal harga yang didapat lebih murah. Efeknya, produk sejenis yang diproduksi oleh industri kecil di Indonesia jelas semakin sulit untuk bersaing.

Secara kualitas, harus diakui dalam beberapa jenis produk, hasil karya anak bangsa masih sangat mampu untuk bersaing. Khususnya untuk produk industri kreatif barang seni, kerajinan dan kuliner. Terbukti dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai produk karya anak bangsa ini menjadi sorotan dan memperoleh penghargaan di dunia internasional.

Permasalahannya adalah soal paradigma dan kebiasaan sosial masyarakat kita sendiri. Meski menang secara kualitas, namun melawan paradigma dan gengsi bukanlah sebuah hal yang mudah. Apalagi jika produk lokal tersebut bersaing di pasar namun belum dapat dipastikan soal kualitasnya.

Qlapa Marketplace Produk Kerajinan Lokal

Qlapa, Marketplace Untuk Pengrajin Indonesia Berkualitas

Sejujurnya, saya sudah seringkali membeli pernak-pernik fashion di Qlapa. Hampir sebagian besar (atau malah seluruhnya?) adalah produk handmade kerajinan kulit. Mulai dari dompet kunci mobil, gantungan kunci, strap kamera, dompet saya sendiri sampai terakhir kemarin saya membeli lanyard atau nametag.

Alasannya ada dua. Yang pertama, saya terpuaskan dari pembelian pertama. Saya ingat itu sekitar 2 tahun lalu saya membeli dompet kunci mobil dari kulit seharga 200ribuan. Dan sampai saat ini dompet itu masih saya pakai, baik-baik saja dan semakin terlihat kualitas kulit asli.

Yang kedua adalah customize-able. Karena ini adalah produk handmade dan banyak yang dikerjakan setelah dipesan, maka banyak penjual yang menerima pesanan custom. Jadi hampir semua pesanan yang saya sebutkan di atas tadi, semuanya bertuliskan nama saya atau nama blog ini. Sangat mendukung untuk kamu yang berjiwa narsis!

Sekitar akhir tahun 2017, kantor kami secara kebetulan juga pernah mengundang founders Qlapa, Mas Benny Fajarai, untuk menjadi salah satu pembicara di acara kantor. Dan dari presentasinya, saya jadi tahu bahwa Qlapa melakukan kurasi untuk setiap produk yang akan dijual di Qlapa. Dan saya juga jadi tahu kalau ibu-ibu dan cewek-cewek di kantor jadi gagal fokus menyimak presentasinya….

benny Fajarai
Para Narasumber dan Mas Benny yang bikin audience gagal fokus….

Menurut Mas Benny, setiap harinya Qlapa bisa kedatangan puluhan atau bahkan ratusan produk yang dikirim oleh pengrajin untuk dikurasi agar dapat dipasarkan melalui Qlapa. Dalam kurasi ini pula, Qlapa memastikan bahwa yang akan muncul di halaman marketplace mereka hanyalah produk-produk berkualitas saja.

Ada satu point penting yang sempat saya dapat saat itu. Jika kemudian produk yang dikirimkan tidak memenuhi standar dari Qlapa, mereka tidak lantas menolak untuk memasarkan begitu saja. Tapi tim dari Qlapa akan memberikan alasan mengapa produk tersebut belum dapat lolos kurasi dan memberikan tips atau bahkan bimbingan agar pengrajin dapat meningkatkan kualitas produknya!

Dengan proses pemilihan produk yang selektif serta kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas dari pengrajin lokal Indonesia, rasanya tak salah jika kemudian Qlapa disebut sebagai rumah produk handmade pengrajin indonesia yang berkualitas.

Di tengah gempuran berbagai jenis produk impor yang dipasarkan dengan harga murah, Qlapa hadir tidak hanya menawarkan produk handmade lokal berkualitas dengan harga yang terjangkau, tapi juga langsung ikut berkontribusi untuk meningkatkan kualitas produk dari pengrajinnya langsung. Tujuannya jelas, agar produk hasil pengrajin lokal semakin berkualitas, dan mampu bersaing melawan gempuran produk import.

iKurniawan

Menulis pengalaman tentang jalan-jalan, makan-makan dan bersantai mereview gadget sambil menikmati secangkir kopi. Senang bercerita santai dalam tulisan di iKurniawan.com

3 thoughts on “Industri Kreatif Anak Bangsa Melawan Paradigma”

  1. Memang kalau soal produk handmade Indonesia itu kualitasnya keren2. Cuman ya mungkin karena kurang promosi dan ambisi dari empunya shingga hanya bisa mentok di pasar lokal aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker