Coretan Pesta Kelulusan

aksi coret kelulusan UN SMUPertama – tama, karena ini tanggal 2 Mei, saya mau ngucapin Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk setiap orang yang menghargai pentingnya pendidikan. Mari sejenak kita berterima kasih kepada para tokoh yang memperjuangkan pendidikan di Indonesia, dari dulu hingga saat ini. *mengheningkan cipta*

Oke next, mungkin momen paling menegangkan di masa sekolah baru aja dilewatkan. Anak SMU dan SMP baru saja menunaikan UN mereka, dan mari berharap mereka semua lulus dengan nilai yang memuaskan. Paling tidak, mereka yang sudah belajar dengan keras, berusaha dengan maksimal, patut mendapatkan itu semua. Nah kalau ada yang gagal, dunia belum berakhir. Masa depan gak selalu ada di lembar Ijazah kok. Lagian kan nanti bisa ikut UN ulang, dan berusahalah lebih keras 🙂

Saya mau flashback sedikit ke belakang ah, jaman dimana saya jadi peserta UN. Waktu itu mungkin namanya kalau gak salah masih UAN, atau malah EBTANAS? Lupa juga, udah jaman dulu banget. Yang jelas, itu ujian akhir yang menentukan kelulusan saya dari SMU, ataupun dari akademi D3.

Sebenernya udah dari SMP saya terbiasa “merayakan” sebuah pencapaian. Saya inget, abis pengumuman kelulusan SMP saya dan beberapa teman dekat berkumpul untuk merayakan kelulusan itu. Meski saat itu enggak seheboh anak SMP jaman sekarang yang konvoi motor (walau gak punya SIM) dan coret – coretan. Yang kami lakukan cuma duduk di pondok kecil di bukit belakang sekolah, ngeliatin Teluk Lampung di kejauhan, sambil berbagi cerita. Mulai dari kenangan yang udah dilewatin selama 3 tahun di SMP, sampe bayangan masa depan kami bakal gimana. Mau nerusin ke SMA mana, terus mau pindah kemana, nantinya mau kerja jadi apa dan seterusnya. Yups, cukup lucu kalau diinget waktu itu kami semua baru lulus SMP, tapi udah mikir jauh kedepan.

Tahun 2003 saya lulus sekolah tingkat menengah Umum atau SMU. Saya cukup bangga, karena itu adalah salah satu SMU Negeri terbaik di Lampung. Dan kali ini, seperti anak SMU pada umumnya saat itu, setelah pengumuman lulus 100%, enggak perlu menunggu pembina upacara turun dari panggungnya, kami semua sudah pesta cat semprot. Dan senyum di bibir kepala sekolah yang menjadi pembina upacara kala itu seperti memakluminya.

Saat itu sepertinya gak ada seorangpun yang enggak jadi korban. Hampir semua teman saya penuh dengan warna warni dan coretan. Gak cuma baju, ada yang sampe ke rambut kena cat juga.

Gak cuma asal coret, kebanyakan dari kami saling berbagi ‘motivasi’ di baju teman – teman. Saya ingat salah seorang adik kelas menulis di baju saya saat itu, “I Believe You Will Make It Happen” (kalau gak salah gitu). Ya, sebuah kalimat dari sahabat untuk memacu semangat mencapai cita – cita. Dan saya juga pernah mencoret di baju teman saya yang mau masuk Teknik Industri salah satu kampus terkenal, “Teknik Industri!! Jangan sampe malu ama baju yang dicoret – coret”.

aksi coret kelulusan SMU

Gak munafik sih, saya gak akan bilang mereka yang coret – coretan itu bodoh atau buang – buang baju. Tapi saya merasa, mungkin itu adalah sebuah luapan kegembiraan aja, dan percikan darah muda yang senang berpesta. Buat saya enggak ada yang salah kok, cuma lakukan di waktu yang tepat, dan hargai keberadaan orang lain. Gak ganggu ketertiban umum, apalagi sampe anarkis dan vandalisme dengan ngerusak fasilitas umum.

Dan gak semua baju juga kami coret – coret. Jaman saya dulu, saya punya 2 baju putih Osis dan 1 baju Pramuka, plus beberapa baju yang sudah kekecilan di lemari baju saya. Yang saya coret cuma 1, yang dipakai pas pengumuman kelulusan. Sisanya, ya banyak kerabat yang perlu dan butuh baju untuk bisa sekolah. Dan harapan saya adalah, jika memang baju itu harus dicoret dengan cat semprot, senoga baju – baju itu dicoret – coret pada saat moment yang tepat dan berharga pula.

pesta kelulusan siswa SMU

Oh iya, ibu saya gak pernah complain dengan apa yang saya lakukan. Mungkin dia memakluminya, karena beliau selalu menemani saya belajar sampai larut malam kalau masa – masa ujian. Seringkali beliau bilang “tidur lagi nak, udah kemaleman ini“, dan saya cuma jawab “tanggung dikit lagi”. Dan jika saya pulang dari pengumuman kelulusan dengan baju yang dicoret, maka bisa dipastikan keesokan paginya beliau pasti akan menyajikan soto yang sangat nikmat sebagai hadiah kelulusan. Buat saya, semangkuk soto ayam tersebut adalah penghargaan tertinggi yang tidak akan saya dapat dimanapun, kecuali dari ibu saya :’)

Jadi kalau sekarang saya liat anak SMA coret – coretan ketika pengumuman kelulusan, maka saya cuma bisa bilang “well, mereka udah berusaha keras. Saya juga pernah diposisi mereka“. Dan seperti yang saya bilang, asal gak mengganggu ketertiban umum aja deh. Tapi, agak miris aja kalau liat berita minggu – minggu kemaren. Baru selesai UN dan belum pengumuman kelulusan, udah coret – coretan. Gimana nanti kalau gak lulus???

“Bukan masalah tentang tindakan bodoh yang kami lakukan, ini hanya bentuk penghargaan atas apa yang telah kami perjuangkan – iKurniawan

 

ilustrasi : Google.com.
Jika ada yang merasa gambarnya dicomot dan kurang berkenan, mohon maaf. Lupa catat sumbernya
🙁

Related Articles

7 thoughts on “Coretan Pesta Kelulusan”

  1. Pada saat senang kita harus bersyukur dan ingat pada saat kita sedang susah, kita juga jangan melupakan saudara-saudara kita yang kurang beruntung (tidak lulus) dengan begitu kita tidak akan larut dalam euforia kebablasan dengan melakukan coret-coret tidak jelas. Coret-mencoret baju saat kelulusan adalah satu cermin tindakan yang mengarah kepada aksi brutal bahkan vandal. Orang-orang yang berpikir dewasa dan juga banyak pemerhati pendidikan menyesalkan hal fenomena ini. Terimakasih

    1. terima kasih atas opininya. bener banget yang mas / mbak tulis.
      saya hanya mengutarakan sudut pandang saya sendiri, karena saya pernah ada di posisi mereka. Muda dengan ego kebebasan yang tinggi. Menurut saya gak semua orang bisa disamakan. Belum tentu yang coret2 itu semuanya vandal dan brutal, dan belum tentu pula yang adem ayem itu santun. beberpaa berita membuktikan itu semua.
      Terima kasih
      🙂

  2. SAYA SANGAT PRIHATIN, APA YANG ANDA TULIS ADALAH JELAS MERUPAKAN JUSTIFIKASI DARI SIKAP ANARKIS DAN JAUH DARI SIKAP LUHUR BANGSA INDONESIA.

    TRIMS

    1. maaf, caps anda rusak?
      bagian mana yang jauh dari sikap luhur bangsa?
      tolong dijelaskan, jangan maen judge
      🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *