Cerita Hidup Versus Cerita Film

Cinta adalah ABG 17 tahun yang baru aja pindah ke sekolah yang baru. Di sekolahnya yang baru ini, dia kenal dengan cowok kece rambut cepak bawa mobil sport 2 roda. Mungkin karena 2 pintu sudah terlalu mainstream. Mereka kenalan setelah bertabrakan di kantin sekolah dan si cowok ketumpahan kuah bakso panas. Kemudian mereka jatuh cinta, jadian dan Cinta akhirnya bikin iri cewek – cewek penghuni lama sekolahan tersebut karena si cowok cepak bermobil sports 2 roda itu adalah macan sekolahan idola wanita. Sampai suatu saat, Cinta baru sadar kalau si Cowok kekasihnya itu adalah turunan serigala penghisap madu.

Gimana, ceritanya unik dan keren kan? Kisah apapun, romantis, sedih, bahagia dan se-absurd apapun bisa terjadi ketika kamu memencet remote televisi. Mungkin kita menganggap apa yang kita lihat di televisi itu cuma sekedar cerita khayalan. Tapi bisa juga kita malah suka dan berkhayal kalau kita bisa menjalani cerita seperti apa yang kita lihat di televisi itu.

Awal tahun 2002, dunia ABG di Indonesia digemparkan dengan film berjudul Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Bukan karena pemerannya adalah cewek cantik dan cowok ganteng dengan rambut kriwel – kriwel serta tampang sok cool nya. Tapi karena cerita romantis, dimana akhirnya si Cinta jatuh hati sama Rangga yang di awal sangat dia benci. Lalu si Rangga pergi ke Amerika meninggalkan Cinta, dengan perpisahan dramatis berciuman di lorong boarding area bandara Internasional. Cerita romantis tersebut diakhiri dengan si Memet yang ketinggalan di Bandara…

cerita film ada apa dengan cinta

Akibat film itu, banyak cowok jadi romantis. Buku puisi dan sastra di toko buku laris manis. Mereka berusaha menduplikat sosok Rangga yang cool dan puitis. Macho tapi manis. Sementara cewek – ceweknya sukses memangkas rok menjadi 10 centi diatas lutut dengan model lebih ketat.

Enggak ada yang salah dengan itu semua. Mungkin benar, film menginspirasi hidup banyak orang. Mungkin iya, banyak orang merasa hidup mereka mirip dengan cerita film yang mereka tonton. Tapi mereka lupa, film yang mereka jadikan contoh dan tiru habis – habisan itu hanya berdurasi 2 jam atau kurang. Lalu selanjutnya, apa?

Saya enggak mengkritisi orang yang menginspirasi hidup mereka dari film. Setiap orang punya cara sendiri untuk memotivasi diri mereka. Tapi mungkin kita juga harus belajar menerima bahwa itu adalah sebuah film, dengan plot dan alur cerita yang dibuat secara pasti akan berakhir dalam jangka waktu tertentu. Kalau dalam bahasa konsep pemrograman, ‘use case in normal condition‘. Jadi enggak ada yang namanya hambatan, permasalahan yang menggagalkan film tersebut untuk sampai ke akhir cerita dan happy ending meninggalkan si Memet di Bandara.

Sekarang kita coba ambil contoh kasus dalam kondisi yang enggak normal, atau istilahnya error 1. Seandainya kisah Rangga dan Cinta ini bener – bener ada. Si Cinta dan genk-nya pergi ke Bandara dan mau nerobos masuk biar si Cinta bisa mengutarakan perasaannya sama Rangga. Sampe Bandara, ternyata Pak Petugas Bandara Berbaju Biru itu enggak mengizinkan mereka untuk masuk ke area ruang tunggu penumpang. Lalu sebagai sahabat yang baik, Alya pun mencoba nego sama Pak Petugas tersebut supaya Cinta diizinkan masuk atas nama cinta. Ternyata negosiasi gagal. Rangga dan Ayahnya terbang ke Amerika, dan si Cinta nangis di Bandara. Dia nyesel kenapa enggak nembak si Rangga lebih awal, dia nyesel kenapa harus jaim kalau dia suka si Rangga, dan dia juga nyesel kenapa pas ke bandara nggak pake mobil Milly aja yang Mitsubishi Lancer, pasti lebih kebut!

Iya, hidup di dunia nyata enggak selamanya berjalan mulus seperti alur cerita dalem sebuah film. Tapi bukan berarti kita harus pesimis memandang sebuah film. Cerita film bisa menjadi inspirasi bagaimana kita menyusun cerita hidup kita sendiri. Hanya bedanya, di dunia nyata, kita adalah sutradara, produser dan sekaligus bintang utama film hidup kita sendiri. Dan di dunia nyata, kita menyusun dan menjalani sebuah cerita, dengan berbagai rencana cadangan, untuk antisipasi jika pemain cameo di hidup kita, ternyata berusaha menjadi bintang utama untuk menghambat alur cerita hidup yang kita buat.

Hidup itu bukan sekedar cerita terstruktur dalam tempo 2 jam dengan pemain yang sudah ditentukan. Hidup juga mungkin enggak akan seindah kisah cerita AADC, atau sedramatis Romeo dan Juliet. Tapi kalau dijalani dengan rasa bangga dan syukur yang hebat, cerita hidup kita akan melebihi cerita film manapun yang pernah dibuat. Percayalah, karena hidup itu selalu indah kalau kita mau menatap dari sudut yang tepat.

Note : Tulisan ini terinspirasi dari seorang sahabat yang terus meratapi masa lalunya. Mengapa dia tidak cool saat SMA, tidak puitis, kurang romantis, dan tidak punya wanita yang mencintainya seperti Cinta.

Related Articles

2 thoughts on “Cerita Hidup Versus Cerita Film”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *